Selasa, 18 Juni 2013

MOTOR RACING

                                                                                              
Malam semakin larut. Bumi yang semula senyap dan gulita, robek oleh gegap gempita teriakan manusia dan deruan suara mesin motor.  Belasan penunggang motor menancap gas bagi kesetanan, merajai jalanan yang semula lengang.


Benny dengan jaket hitam terbarunya melajukan motor dengan kecepatan penuh. Ia bertekad untuk menang.  Ini balapan pertama yang diadakan di jalan tol yang belum digunakan. Udara malam yang sejuk menambah semangatnya.
“Benny …Benny…”
“Yeee .....  Ayo Benny, kebut ... kebut.”
“Topan ....Topan ....” suara supporter yang lain riuh rendah.
Tiga meter lagi motor Benny akan menyentuh garis finish. Di belakangnya, Topan siap menyalip, membuat hati Benny berdegup keras.

Tiba-tiba ...

Nguing .....nguing.” 
“Polisi ...Polisi…,”  terdengar teriakan bersahut-sahutan. Kalang kabut semua motor menancap gas keluar dari arena balap liar. Beberapa orang pembalap yang kurang cepat tanggap dengan mudah tertangkap.

Benny yang sudah membayangkan hadiah di depan mata mengumpat habis-habisan.  Dengan geram ia tancap gas berbelok ke arah perumahan. Ia punya teman yang tinggal di perumahan dekat jalan tol itu. Ia melaju ke tanah kosong di sebelah rumah temannya. Di atasnya ada bekas kandang kambing. Ia sembunyi di situ. Entah mengapa yang terpikir olehnya hanya tempat ini, tempat yang ia rasa aman untuk sembunyi.
            “Huh ... bau kambing,” gerutunya.

Suara sirine mobil dan motor terdengar makin jauh dan lama-lama menghilang. Benny dengan perlahan keluar dari persembunyian dan pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan ia menggerutu. Hari ini ia sedang sial, bukannya hadiah uang yang didapat, tapi malah aroma kambing. Semula ia begitu senang mendengar kabar bahwa musuh bebuyutannya, juara bertahan sebelumnya tidak hadir karena sakit. Ia sudah membayangkan dirinya bakal dielu-elukan bagai Rambo menang perang, eh ternyata hari ini bukannya beruntung malah buntung.

*****

“Benny .... Benyamin ... ,” teriak Emak. Kalau Emak memanggil nama lengkap, berarti ia sedang marah besar. 
“Kamu semalam kebut-kebutan lagi ya...”
Benny yang sedang tidur ngelilir sebentar, Ah. si Emak pagi-pagi udah ngomel aja, pikirnya. Ia tarik selimutnya. Ia teruskan tidurnya. Mimpinya sedang seru. Ia tadi sedang di tengah hutan ketemu orang utan. Sayang, mimpinya tidak bersambung. Dengan cepat pemandangan berubah.  Sekarang  ia sedang di pantai.  Ah, pemandangan yang sangat indah .... pantai biru dengan pohon kelapa.  Ia naik perahu sampan bersama teman-temannya.  Angin sepoi-sepoi bertiup. Benny tiduran sambil menghirup minuman air kelapa muda.
 “Ah. serasa di surga ...,” ucapnya.  Tiba-tiba datang angin yang sungguh kencang, kedaaan mendadak berubah.  Ombak yang teramat besar datang “Byurr” menelan perahu mungil yang dinaiki Benny dan teman-temannya.
“Tolong ...tolong,” teriak Benny dengan keras.
“Toloong … Maaak.”
“Tolong apaan... ayo bangun .... solat subuh,” terdengar suara Emak. Di tangan kanannya terlihat gayung yang sudah kosong.
“Ampun Mak,” ucap Benny dengan baju yang basah kuyup. Ia ngeloyor ke kamar mandi.
           “Astaghfirullah al Azhim Ya Allah ... anak ini bandel amat sih...,” ucap emaknya.
“Sudah berkali-kali dinasehati supaya ngga main kebut-kebutan, tetap aja kaya gitu. Ngga kapok-kapok. Mana solatnya males banget. Boro-boro ke masjid,” suara omelan Emak terus terusan terdengar.

“Eh denger ya Ben.  Keseringan solat kesiangan itu lama lama jadi murtad,” kata Emak setelah Benny selesai mandi dan solat .
“Ah kata siapa Mak”.
“Iya ....Murtat ...jemur pantat ...”
“Ah si emak bisa aja.
            Benny, bungsu satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara ini memang sebetulnya cukup dekat dan manja dengan emaknya.  Namun pengaruh salah pergaulan membuatnya ikut-ikutan main kebut-kebutan dan terkadang minum minuman keras.
”Ben, jangan main kebut-kebutan lagi ya. Bahaya! Tuh, si Roy anak tetangga kemarin malam ketangkep polisi. Udah celaka nabrak pohon eh ketangkep polisi lagi. Belum lagi nanti masuk berita. Jangan sampai seperti itu ya. Maluu. Malu Ben. Bapakmu kan dipandang alim di sini.”
            Berbeda dengan emaknya yang cerewet, bapaknya yang jadi pegawai di kelurahan memiliki sifat pendiam.  Orangnya sederhana. Memang sangat cocok Emak dengan bapaknya ini.  Bayangkan kalau suami istri dua-duanya cerewet pasti anaknya stress berat.  Bapaknya tidak pernah menegor Benny kalau ia berbuat salah. Hanya sekali sekali ia menasehati “Jadi anak yang soleh ya, Ben. Bapak hanya minta satu itu aja.
Karena hanya itu nasehat bapaknya, Benny jadi sangat hafal dengan kemauan bapaknya. Tapi sayangnya bapaknya tidak pernah menerangkan yang namanya anak soleh itu yang seperti apa. Lain soal dengan emaknya. Keinginan emaknya banyak sekali. Benny harus jadi anak soleh, solatnya musti lima waktu, sekolah yang benar supaya jadi hartawan, engga boleh kebut-kebutan, engga boleh pacaran, minum minuman keras apalagi berjudi. Engga boleh main dengan teman yang nakal dan masih banyak lagi. Benny tidak ingat satu per satu.

*****

Jumat siang  pekan depannya.
            “Ben, jumat malam minggu depan balap lagi yuk,” kata Dani teman nongkrong Benny.
 “Ngga ah. Entar diomelin lagi sama Emak”.
 “Yah, masak takut sama Emak. Percuma badanmu gede. Ayo hadiahnya gede nih,” Dani mulai menggoyang keimanan Benny.
  “Engga ah. Minggu lalu si Roy ketangkep, tuh.”
  “Yah minggu lalu emang apes dia. Sekarang tempatnya agak jauh. Agak ke luar kota. Jauh dari polisi. Ada perumahan elit yang bikin ring road. Jalannya mulus banget”.
 “Wow. Jalanan mulus jadi bisa dikebut abis. Asyik banget tuh,” pikir Benny. Imannya yang lemah dalam hitungan detik sudah tergiur.
Ia memutar otak bagaimana caranya supaya bisa pergi ke sana tanpa ketahuan emak dan bapaknya.
 “Mak, kan ini udah masuk bulan Rajab. Sekolahan ngadain pengajian rutin seminggu sekali. Karena yang ikut ada anak pagi dan anak siang jadi diadakannya malem. Supaya ngga ganggu jadwal sekolah jadi diadakannya Jumat malam. Kan Sabtunya libur.”
 "Wah, bagus banget tuh programnya. Kamu harus ikut.”
 “Iya dong mak. Kan katanya Benny musti jadi anak soleh.”
Emak yang tahu bahwa Benny suka ngibul, tidak percaya begitu saja.  Ia memastikan ke Pak Guru dulu. Benar, jumat malam itu ada ngaji.  Malamnya emak telpon lagi ke Pak Guru. Girang sekali emak waktu mendengar bahwa Benny benar-benar hadir di pengajian. Emak melihat foto Benny dengan terharu. “Akhirnya tobat juga nih anak. Ngga percuma didoain tiap hari,” bisik Emak.

*****
Jumat depannya …
“Yess, akhirnya aku juara …” Benny berteriak senang, suaranya melengking menembus udara malam. Ia berada di antara teman-temannya di arena balap liar di pinggir kota. Ia gembira bukan buatan, dapat hadiah uang. Biasanya beberapa teman minta ditraktir makan dan terkadang minuman keras. Tapi Benny tidak mau mentraktir minuman keras, dia inget pesan emaknya “Jangan minum minuman keras.” Pulang dari balapan dia mampir ke minimarket 24 jam. Dia beli wafer coklat kesukaan emaknya. Benny merasa berdosa sudah mengelabui Emak. Emak senang sekali dibelikan wafer oleh anak bungsunya yang nakal. Emak pikir, Benny sudah berubah. Ngga percuma ia ikut pengajian bulan Rajab.

Benny ketagihan. Berulang kali dia ikut balapan. Kalau menang ia senang ingin ikut lagi. Apalagi hadiahnya lumayan. Kalau kalah, dia penasaran ingin membuktikan bahwa dia sebetulnya masih jagoan.

******
Suatu malam emak dan bapak ke kondangan naik motor.  Beberapa hari ini berturut-turut ada kondangan. Emak yang biasanya disiplin, tidak makan makanan yang berlemak, jadi tergoda ingin makan enak. Hatinya sedang senang, anak bungsunya yang semula nakal sekarang sudah tobat,  sudah rajin mengaji. Biasanya sepulang mengaji anak kesayangannya ini membawakan wafer coklat kesukaannya.  Ah bahagianya.
            “Pak, kok rasanya dada emak sakit ya,” ucap Emak begitu masuk ke ruang tamu sepulang dari kondangan. Rasa sakitnya menjalar ke lengan, perutnya mual dan mendadak badannya terasa lemas.
“Bruk” tiba tiba emak terjatuh. Bapak yang berada di belakang emak kaget setengah mati.  “Emak ...Emak ...”
          “Ben... Ben...tolong ...,” Bapak teriak memanggil anak bungsu lelaki satu satunya. Ternyata anak itu tidak ada di tempat. Anak sulungnya Aida juga tidak ada. Yang ada hanya Imayang sedang nonton TV.
            Bapak langsung membopong Emak ke tempat tidur.
“Aduh .... sesak, sakit. Dada emak ...... sakit ... kaya diinjek gajah...” ucap Emak dengan suara tersengal –sengal. Keringat Emak keluar membanjiri tubuh.
“Mana Benny ....  Ben ... cari angkot bawa emak ke rumah sakit”, teriak Bapak. 
“Ya Allah... Emak kenapa? Benny sedang ngga ada, Pak. Lagi pergi. Ima panggil Bu Mantri aja ya,” ucap Ima yang cepat mendekat begitu mendengar suara ribut ribut.
“Ya ...buruan,” jawab Bapak. Ia percaya dengan Bu Mantri. Ia cukup terpercaya, pengalamannya menangani orang sakit sudah berpuluh-puluh tahun.  

                                               *****
Emak masih lemah. Setelah ditangani Bu Mantri, kelihatannya penderitaan Emak sedikit berkurang walau badannya masih  terkulai. Ia berbaring di dipan. Di sebelahnya Aida yang sudah datang terus memijit kaki Emak. 
Ia hendak dibawa ke rumah sakit tapi masih harus menunggu angkot atau taksi dipanggil. 
“Mana Ben?” tanya Emak dengan suara lemah. 
“Mana Ben?” terdengar suara gusar Aida mengulang pertanyaan Emak. Kakak sulung yang satu ini memang galak dengan Ben.
“Biasanya Jumat malam Ben ikut balap motor,” dari arah pintu kamar terdengar suara anak remaja tanggung. Ia mengantar ibunya menjenguk Emak.  Anak tetangga ini kadang-kadang ikut kakaknya ke arena balap liar.
“Apa? Ben ikut balap motor ...Ya Allah,” terdengar suara Emak tersedak.
“Oh .... sakit ... ya Allah.  Serangan itu datang lagi.  Emak langsung pingsan.
“Ya Allah ngomong apa kamu nak. Jangan bilang seperti itu. Emak kaget,”suara Bapak marah. Anak muda tadi ciut, ia hanya bicara apa adanya.  Bu Mantri yang masih berada di kamar itu cepat berdiri dan berusaha membuat Emak terbatuk dengan menekan dadanya beberapa kali. Tidak ada reaksi. Semua yang berada di kamar itu terhenyak menahan nafas. Suasana sepi, hanya terdengar suara Basmallah Bu  Mantri yang terus berusaha. Terdengar sayup suara istighfar dan isak tertahan. Suasana ruang terasa begitu mencekam. Waktu bagaikan berhenti sejenak, turut menyaksikan usaha anak manusia mencegah datangnya malaikat maut.

Setelah beberapa waktu, tidak ada perubahan. Bu Mantri berhenti dan mulai menekan urat nadi Emak.
“Inna lillah ..,” ucapnya. Rupanya ia tak sanggup menghalau kedatangan malaikat maut.
“Emak ....astaghfirullah ..ya Allah,” bapak yang biasanya tenang kelihatan begitu tegang. Ia masih berharap Emak hanya pingsan.
“Emak…emak,” bapak menggoncang-goncang badan emak.
“Emak sudah ngga ada pak,” ucap Bu Mantri perlahan.
Mendengar ucapan itu bapak tersadar, badannya terkulai.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun,” ucapnya sambil terisak. Ia tutup mukanya dengan kedua tangannya. Ya Allah, semuanya begitu cepat, begitu tak terduga.


*****

Malam itu Benny kalah. Entah kenapa perasaannya malam itu tidak enak.  Tadi ia pergi tanpa pamit. Emak dan bapak pergi kondangan.  Yang menang  Topan, tetangganya.
“Ayo Ben ikutan aku traktir minuman. Kan aku yang menang. Ngga senang ya aku menang,” bujuk Topan.
“Ngga ah. Emak ngga suka aku minum.”
“Sekali-sekali lah. Kan Emak sudah suka muji-muji Ben. Dikirain Ben udah jadi anak soleh. Ngga bakalan ketahuan lah. Dikit aja.”
“Ayo Ben. Mana solidaritasmu,” teman-teman yang lain ikut membujuknya.
Akhirnya Ben mengalah, ia memang mudah merasa tidak enak dengan teman-temannya.  “Ngga papalah kan Emak ngga tau,”pikirnya. Teguk demi teguk air haram itu membasahi kerongkongannya.
  “Kring krring ....” hape yang baru saja ia nyalakan berbunyi.  Sedari tadi memang hapenya ia matikan.  Konsentrasi ke balapan.  Benny kaget mendapati bahwa panggilan itu dari bapaknya. “Wah, jangan-jangan malaikat melapor ke Bapak nih. Kan bapak orang alim,” pikirnya.
“Cepat pulang Ben ...,” terdengar suara berat bapaknya.
“Ya, Pak,“ Ben masih mau bertanya tapi telpon bapak sudah ditutup.
Ben memacu motornya.  Perasaannya galau,  tidak biasanya bapak menelepon. Lokasi balapan ini agak jauh dari rumahnya. Tak lupa ia mampir ke minimarket untuk membeli wafer coklat. Kali ini ia membeli dua bungkus. Ia merasa teramat bersalah.  Sampai di dekat rumah, ia lihat rumahnya ramai, pintunya terbuka lebar. Banyak tamu. Lampu terang benderang.
“Ada apa ini? “ Jantung Ben berdegup sangat keras.
“Ada apa?” Ben bertanya dengan gusar kepada para tamu.  Mulutnya yang bau minuman keras tercium oleh tamu-tamu yang sedang duduk di mulut pintu. Para tamu itu terdiam berpandangan. Tak lama kemudian terdengar suara Ima, kakaknya.
 ”Ke mana saja kamu ditelpon dari tadi ngga diangkat? ... emak sudah pergi.”         
 “Pergi ...pergi ke mana?” teriak Ben panik.
 ”Emak sudah  ngga ada Ben. Emak dipanggil Allah ...”
 “Apa? EMAAK .....” suara tangis Ben melengking keras.. Badannya yang besar ambruk bagaikan batang pohon yang tercerabut dari akarnya. Benny menangis meraung-raung seperti anak kecil “Emak ampuni Ben. Emak, ini wafer buat Emak,” suara tangisnya mulai merintih, mengiris hati membuat semua tamu ikut menitikkan air mata. “Ya Allah ampuni hambaMu yang berlumuran dosa ini.”

*****

gambar dari: www.sumutmerdeka.com



            

2 komentar: