Selasa, 18 Februari 2014

Becoming a Holistic Person

(Disarikan dari kuliah umum yg disampaikan Oleh Pak Ahmad Faiz Zainuddin)

Holistic person? ....  apa artinya? bahasa Indonesianya adalah  insan kamil atau insan paripurna. 

Mengapa judulnya becoming?  Karena memang menjadi insan paripurna adalah suatu proses. Tidak mungkin mencapai kesempurnaan yg absolut.

Menjadi insan kamil adalah proses menjadi insan yang bisa mencapai kondisi optimal dalam ke tujuh dimensi dalam kehidupan. Apa saja kah itu ?

Masalah yg dijumpai dalam kehidupan biasanya mencangkup 1 atau lebih dimensi berikut ini:

1. Spiritual
2. Emosi
3. Sosial (termasuk keluarga)
4. Intelektual/mental
5. Fisik
6. Finansial
7. Estetis

Biasanya seseorang terobsesi dengan sebagian  saja dari dimensi di atas. Misalnya seorang ilmuwan, cenderung hanya menyukai dimensi intelektual sehingga dimensi yang lain terlupakan. Pinter tapi miskin. Atau seorang ustadz terobsesi dengan dimensi spiritual, sedangkan masalah ekonomi dan keindahan kurang diperhatikan. Sebaliknya seorang artis memperhatikan estetika dan finansial tetapi dimensi spiritual kurang diperhatikan. Ada  yang kaya raya, parlente tapi sakit2 an ....repot khan?    Nah ....kuliah umum ini tujuannya adalah mengoptimalkan ke 7 dimensi di atas.    

Khusus untuk dimensi pertama akan dibahas terakhir karena ini yg paling penting. Jadi dilongkap dulu ya ....

Tujuan dari kuliah ini adalah agar kita bisa mengoptimalkan ke 7 dimensi di atas, agar bisa mencapai  ...
Wealthy life, Prime body, Creative solutionist, Inspirational leader, Peaceful fighter n Elegant beautifier.
Duh .. Kalau semuanya tercapai ....keren banget ya. 

Ok ...kita bahas yang berkaitan dengan emosi ya ....yg tujuan akhirnya menjadi Peaceful fighter ....
Pejuang yang damai. Seperti apa ya .... biasanya kalau seseorang itu pejuang maka ia aktif, cekatan, ngga bisa diem,  perfeksionis, suka ngga sabaran,  ....kesal kalau lihat orang lain lamban.

Nah ...kalau sudah bisa jadi pejuang yang damai, ia tetap aktif, cekatan, perfeksionis  tapi tetap bisa sabar ngga grusa grusu ....

Pernah lihat film kung fu ngga? ....biasanya suhu yg tingkat tinggi adalah orang yg peaceful fighter. Pendekar hebat tetapi tetap tenang, sabar berwibawa ...

Ada seorang tokoh dunia yang sangat sederhana. Suatu hari ia mendatangi gedung MPR dengan mengendarai kendaraan yg butut dan memakai  baju seadanya ....tapi begitu ia bicara semua orang mendengarkan ....
Ketika ditanya "Kenapa pake kendaraan seperti itu" jawabnya: "Karena tidak ada yg lebih butut dari itu". Ketika ditanya lagi "Kenapa dengan penampilan yg begitu sederhana ia bisa mempengaruhi orang orang penting yang ada di dalam gedung MPR itu? " .....jawabnya; "Karena saya melakukan apa yang saya katakan" .....subhanallah .

Siapakah dia? .... Mahatma Gandi.

Senin, 16 September 2013

Apakah SEFT bisa diterapkan untuk penyandang Autisme?

“Bu … besok ada seminar ESQ. Pembicaranya Pak Ary Ginanjar dan Aa Gym. Biaya seminar 3,5 juta. Tapi berhubung ada yang mundur, ibu bisa gantiin. Bayar 1 juta aja … kalau mau ikut secepatnya mendaftar ya. Terakhir hari ini.”

"Bisa untuk terapi Farid Fadli," begitu penjelasan teman saya melalui telfon genggam.

"Tuing ... ESQ dengan potongan harga ....bisa untuk terapi Farid Fadli, anakku tersayang yang autis,"  saya begitu gembira mendengar berita ini. Sudah lama saya ingin ikut ESQ tapi karena berbagai kendala belum terlaksana.

Alangkah gembiranya ketika  berhasil merayu suami untuk mengijinkan saya ikut seminar. Sungguh pertanda awal yang baik. Suami mengijinkan saya untuk ikut acara dua hari, dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam. Bukan sesuatu yang mudah. O iya ....kebetulan suami sedang di luar kota.

"Hm ...berarti saya seorang negosiator yg hebat ya ...atau perayu yang ulung ha ha ha ...."

"GR ... tentu saja suami setuju, karena salah satu tujuan saya ikut seminar ini adalah untuk menerapi anak kembar kami yang ganteng-ganteng."


Keesokan harinya, setiba di hotel tempat pelatihan dilaksanakan, saya mendengar bisik-bisik tetangga ... peserta yang lain membicarakan soal Pak Faiz ... beliau begini ... beliau begitu. Setelah saya cari tau, ternyata ini bukan seminar ESQ dan tidak ada Pak Ary Ginanjar maupun Aa Gym.  Terus terang saya agak kecewa ...

Hari pertama dilalui. Pembicaranya bernama Pak Iwan Pambudi. Sepintas penampilannya mirip Nico Siahaan. Membuka acara tidak dengan salam ....saya agak kaget. Oo ini bukan acara Islam tho .... walupun ternyata setelah beberapa lama keluar juga salamnya.

Singkat cerita berlalulah dua hari sampai malam kegiatan yang cukup melelahkan. Apa hasilnya?

Sungguh di luar dugaan ...  
Saya merasa mendapatkan lebih dari apa yang saya harapkan.
Di beberapa bagian acara peserta menangis tersedu-sedu. Di sesi yang lain tertawa riuh. 

Bahkan di sesi malam pertama, di acara pembersihan sampah-sampah emosi,  ada peserta yang muntah muntah dan pingsan.

Sungguh luar biasa ...
Ini pelatihan yang idealnya diikuti oleh siapapun yang punya masalah. Masalah apa? masalah apa saja ...
Ada peserta yang di akhir hari pertama sudah bisa menerapi temannya agar berhenti merokok. Ada salah seorang peserta yang wajahnya di hari pertama terlihat keruh .... oh rupanya sedang stress memikirkan masa pensiun yang semakin dekat. Namun di hari ke dua sudah terlihat cerah sumringah.

Bagaimana dengan saya? ...   
Sehari setelah pelatihan, saya menerapi anak saya.  Ajaib! dalam hitungan menit sesudah diterapi Farid yang semula hiperaktif, jadi tenang. Padahal terapinya mudah sekali, hanya ditapping atau diketuk 9 ...  jjiaah ... kaya ilmu silat aja. 


Fadli yang semula mudah marah ....alhamdulillah jadi manis sekali.

Sebelum diterapi, Fadli kalau marah sungguh mengerikan. Saya bisa di "smack down". Kebayang ngga, anak kembar saya ini tingginya hampir 180 cm. Badannya tinggi besar tapi saat ini non verbal.


Ya Allah ....saya bersyukur telah diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan SEFT ini. Hampir 20 tahun kami mencari terapi dan pengobatan yang cocok untuk anak kami, ke mana mana. Darah, urin, rambut pernah dikirim ke Lab di Amerika dengan biaya belasan juta. Saya ke Klaten 6 bulan, kos menemani anak saya diterapi, jauh dari keluarga yang lain  ... dan berbagai terapi lain sampai2 anak anak pernah disembur-sembur pake sereh segala .... 
Astaghfirullah ....

Alhamdulillah...akhirnya kami mendapatkan terapi yang dalam sekejap bisa merubah anak saya menjadi lebih baik. Masih belum sembuh benar, belum bisa bicara, belum seperti yang diharapkan. Tapi kami yakin, Allah memberikan yang terbaik untuk hambanya yang berusaha sabar.

Memang menerapkan terapi ini untuk anak penyandang autisme harus sabar dan konsisten. Karena harus ditapping satu per satu. Misalnya untuk menghilangkan emosi yg tak terkendali ya niatnya itu. Kalau untuk menghilangkan hiperaktif harus ditapping lagi.

Lucunya terapi ini bisa untuk hal-hal yg kelihatannya sepele. Anak saya ngga suka dan ngga mau pakai sandal jepit. Setelah ditapping dengan niat itu, alhamdulillah dia suka pakai sandal jepit. Jadi praktis khan ngga harus pakai sepatu ke mana mana :) ...

Selain self healing atau pengobatan, di pelatihan ini kami juga diberi materi materi penting lainnya. Bagaimana agar bisa memperoleh kesehatan, kedamaian jiwa, kesuksesan, kebahagiaan dan kemuliaan hidup.

Terima kasih Pak Iwan, Pak Widyo, Pak Umyung dan terutama Pak Faiz penemu atau yang lebih tepat dikatakan sebagai pelengkap metode EFT, yang menambahkan nilai Spiritual pada SEFT. Dengan penambahan S ini EFT jadi lebih poweful.

Ngomong-ngomong ...kenapa di awal teman saya bilangnya ESQ dg pembicara Pak Ary ya? ...ternyata ada salah paham. Teman saya, Bu Ani ini juga belum pernah ikut, diminta utk buka websitenya. Di website ada rekomendasi dari Pak Ary dan Aa Gym.  
Nah ...mungkin bacanya ngga teliti karena waktunya sudah mefet .....begitu Bu? atau hanya dapat info sepotong-sepotong .... Anyway terima kasih buat Bu Ani dan Bu Happy yang  sudah membuat saya kesasar. Coba dari awal bilangnya SEFT, mungkin saya ngga ikut he he ...

Setelah melihat manfaatnya, saya akhirnya membayar penuh, supaya bisa ikut Training Of Trainer pada pelatihan yang sangat bermanfaat ini. Sebetulnya semula agak berat juga mengeluarkan dana 3,5 juta. Tapi kalau dibandingkan dengan mengikuti seminar motivasi atau belajar Hypnoteraphy yg hampir mencapai 10 juta, terapi ini relatif tidak mahal.

Berapa banyak biaya yang kita butuhkan untuk mencapai kebahagiaan? ... berapapun kita bayar. Semampu kita. Apalagi ternyata untuk training ini, kita bisa gratis kalau mengajak 5 orang.

Alhamdulillah ... karena memang bagus, saya berhasil mengajak beberapa teman. Dalam satu bulan modal saya sudah kembali.

Btw di pelatihan yang pertama saya ikuti, Pak Faiz tidak turut mengisi acara. Beliau masih di Amrik. Nanti saya  ceritakan soal beliau di tulisan yang berikutnya ya.... Bagaimana pemaparan beliau membuat saya ingin lebih aktif lagi memperkenalkan SEFT kepada teman2 saya ... 

Beliau telah membuat saya jatuh cinta dg SEFT.
Cinta karena Allah ... (Hiks ... sampai terharu ....) 
Semoga Allah meridhoi dan memudahkan langkah kita semua ... Sefter di seluruh Indonesia ...
Semoga cita cita kita mengentaskan Indonesia dari penderitaan dan kemiskinan di tahun 2020 bisa tercapai ... Aamiin YRA.

Notes:
kalau penasaran dengan SEFT bisa klik video berikut

http://www.youtube.com/watch?v=DiXrePZryX4

atau langsung aja ikuti pelatihannya , berikut jadwalnya:

28-29 Sept 2013: Surabaya
28-29 Sept 2013: Tasikmalaya

05-06 Okt 2013:  Jakarta
05-06 Okt 2013:  Samarinda
12-13 Okt 2013:  Bandung
19-20 Okt 2013:  Banyuwangi
19-20 Okt 2013:  Jayapura
26-27 Okt 2013:  Batam
26-27 Okt 2013:  Solo

Pendaftaran: 081387939580

Gambar dr buku
"SEFT for healing + success+happiness+greatness,"
karangan Ahmad Faiz Zainuddin.


Selasa, 18 Juni 2013

MOTOR RACING

                                                                                              
Malam semakin larut. Bumi yang semula senyap dan gulita, robek oleh gegap gempita teriakan manusia dan deruan suara mesin motor.  Belasan penunggang motor menancap gas bagi kesetanan, merajai jalanan yang semula lengang.


 Benny dengan jaket hitam terbarunya melajukan motor dengan kecepatan penuh. Ia bertekad memenangkan pertandingan. Pertandingannya yang  pertama di lokasi jalan tol yang belum digunakan  ini. Udara malam yang sejuk menambah semangatnya.
“ Benny …Benny…”
“Yeee .....  Ayo Benny, kebut ... kebut.”
“Topan ....Topan ....” suara supporter yang lain riuh rendah.
Tiga meter lagi motor Benny akan menyentuh garis finish. Di belakangnya,  Topan siap menyalip, membuat hati Benny berdegup keras.

Tiba-tiba ...

Nguing .....nguing,” tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.
“Polisi ...Polisi…,”  terdengar teriakan bersahut-sahutan. Kalang kabut semua motor menancap gas keluar dari arena balap liar. Beberapa orang pembalap yang kurang cepat tanggap dengan mudah tertangkap.

Benny yang sudah membayangkan hadiah di depan mata mengumpat habis-habisan.  Dengan geram ia tancap gas berbelok ke arah perumahan. Ia punya teman yang tinggal di perumahan dekat jalan tol itu. Ia melaju ke tanah kosong di sebelah rumah temannya, yang di dalamnya ada kandang kambing yang ditinggalkan. Ia sembunyi di situ. Entah mengapa yang terpikir olehnya hanya tempat ini, tempat yang ia rasa aman untuk sembunyi.
            “Huh ... bau kambing,” gerutunya.

Suara sirine mobil dan motor terdengar makin jauh dan lama-lama menghilang. Benny dengan perlahan keluar dari persembunyian dan pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan ia menggerutu. Hari ini ia sedang sial, bukannya hadiah uang yang didapat, tapi malah aroma kambing. Semula ia begitu senang mendengar kabar bahwa musuh bebuyutannya, juara bertahan sebelumnya tidak hadir karena sakit. Ia sudah membayangkan dirinya bakal dielu-elukan bagai Rambo menang perang, eh ternyata hari ini bukannya beruntung malah buntung.

*****

“Benny .... Benyamin ... ,” teriak Emak. Kalau Emak memanggil nama lengkap, berarti ia sedang marah besar. 
“Kamu semalam kebut-kebutan lagi ya...”
Benny yang sedang tidur ngelilir sebentar, Ah. si Emak pagi-pagi udah ngomel aja, pikirnya. Ia tarik selimutnya. Ia teruskan tidurnya. Mimpinya sedang seru. Sayangnya mimpinya tidak bersambung. Dengan cepat pemandangan berubah. Yang tadinya sedang di tengah hutan ketemu orang utan  mendadak berubah. Sekarang  ia sedang di pantai. Ah, pemandangan yang sangat indah .... pantai biru dengan pohon kelapa. Ia sedang naik perahu sampan bersama teman-temannya. Angin sepoi-sepoi bertiup. Benny tiduran sambil menghirup minuman air kelapa muda.
 “Ah. serasa di surga ...,” ucapnya.  Tiba-tiba datang angin yang sungguh kencang, kedaaan mendadak berubah. Ombak yang teramat besar datang “Byurr” menelan perahu mungil yang dinaiki Benny dan teman-temannya.
“Tolong ...tolong,” teriak Benny dengan keras.
“Tolong …Maak.”
“Tolong apaan... ayo bangun .... solat subuh,” terdengar suara Emak. Di tangan kanannya terlihat gayung yang sudah kosong.
“Ampun Mak,” ucap Benny dengan baju yang basah kuyup. Ia ngeloyor ke kamar mandi.
            “Astaghfirullah al Azhim Ya Allah ... anak ini bandel amat sih...,” ucap emaknya.
“Sudah berkali-kali dinasehati supaya ngga main kebut-kebutan kalau malam, tetap aja seperti itu. Ngga kapok kapok. Mana solatnya males banget. Boro-boro ke masjid,” suara omelan Emak terus terusan terdengar.

“Eh denger ya Ben.  Keseringan solat kesiangan itu lama lama jadi murtad,” kata Emak setelah Benny selesai mandi dan solat .
“Ah kata siapa Mak”.
“Iya ....Murtat ...jemur pantat ...”
“Ah si emak bisa aja.
            Benny, bungsu satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara ini memang sebetulnya cukup dekat dan manja dengan emaknya.  Namun pengaruh salah pergaulan membuatnya ikut-ikutan main kebut-kebutan dan terkadang minum minuman keras.
”Ben, jangan main kebut-kebutan lagi ya. Bahaya. Tuh, si Roy anak tetangga kemarin malam ketangkep polisi. Udah celaka nabrak pohon eh ketangkep polisi lagi. Belum lagi nanti masuk berita. Jangan sampai seperti itu ya. Maluu. Malu Ben. Bapakmu kan dipandang alim di sini.”
            Berbeda dengan emaknya yang cerewet, bapaknya yang jadi pegawai di kelurahan memiliki sifat pendiam.  Orangnya sederhana. Memang sangat cocok Emak dengan bapaknya ini.  Bayangkan kalau suami istri dua-duanya cerewet pasti anaknya stress berat.  Bapaknya tidak pernah menegor Benny kalau ia berbuat salah. Hanya sekali sekali ia menasehati “Jadi anak yang soleh ya, Ben. Bapak hanya minta satu itu aja.
Karena hanya itu nasehat bapaknya, Benny jadi sangat hafal dengan kemauan bapaknya. Tapi sayangnya bapaknya tidak pernah menerangkan yang namanya anak soleh itu yang seperti apa. Lain soal dengan emaknya. Keinginan emaknya banyak sekali. Benny harus jadi anak soleh, solatnya musti lima waktu, sekolah yang benar supaya jadi hartawan, engga boleh kebut-kebutan, engga boleh pacaran, minum minuman keras apalagi berjudi. Engga boleh main dengan teman yang nakal dan masih banyak lagi. Benny tidak ingat satu per satu.

*****

Jumat siang  pekan depannya.
            “Ben, jumat malam minggu depan balap lagi yuk,” kata Dani teman nongkrong Benny.
“Ngga ah. Entar diomelin lagi sama Emak”.
“Yah, masak takut sama Emak. Percuma badanmu gede. Ayo hadiahnya gede nih,” Dani mulai menggoyang keimanan Benny.
“Engga ah. Minggu lalu si Roy ketangkep, tuh.”
“Yah minggu lalu emang apes dia. Sekarang tempatnya agak jauh. Agak ke luar kota. Jauh dari polisi. Ada perumahan elit yang bikin ring road. Jalannya mulus banget”.
“Wow. Jalanan mulus jadi bisa dikebut abis. Asyik banget tuh,” pikir Benny. Imannya yang lemah dalam hitungan detik sudah tergiur.
Ia memutar otak bagaimana caranya supaya bisa pergi ke sana tanpa ketahuan emak dan bapaknya.
“Mak, kan ini udah masuk bulan Rajab. Sekolahan ngadain pengajian rutin seminggu sekali. Karena yang ikut ada anak pagi dan anak siang jadi diadakannya malem. Supaya ngga ganggu jadwal sekolah jadi diadakannya Jumat malam. Kan Sabtunya libur.”
”Wah, bagus banget tuh programnya. Kamu harus ikut.”
 “Iya dong mak. Kan katanya Benny musti jadi anak soleh”.
Emak yang tahu bahwa Benny suka ngibul, tidak percaya begitu saja.  Ia  memastikan ke Pak Guru dulu. Benar, jumat malam itu ada ngaji.  Malamnya emak telpon lagi ke Pak Guru. Girang sekali emak waktu mendengar bahwa Benny benar-benar hadir di pengajian. Emak melihat foto Benny dengan terharu. “Akhirnya tobat juga nih anak. Ngga percuma didoain tiap hari,” bisik Emak.

*****
Jumat depannya …
“Yess, akhirnya aku juara …” Benny berteriak senang, suaranya melengking menembus udara malam. Ia berada di antara teman-temannya di arena balap liar di pinggir kota. Ia gembira bukan buatan, dapat hadiah uang. Biasanya beberapa teman minta ditraktir makan dan terkadang minuman keras. Tapi Benny tidak mau mentraktir minuman keras, dia inget pesan emaknya “Jangan minum minuman keras.” Pulang dari balapan dia mampir ke minimarket 24 jam. Dia beli wafer coklat kesukaan emaknya. Benny merasa berdosa sudah mengelabui Emak. Emak senang sekali dibelikan wafer oleh anak bungsunya yang nakal. Emak pikir, Benny sudah berubah. Ngga percuma ia ikut pengajian bulan Rajab.

Benny ketagihan. Berulang kali dia ikut balapan. Kalau menang ia senang ingin ikut lagi. Apalagi hadiahnya lumayan. Kalau kalah, dia penasaran ingin membuktikan bahwa dia sebetulnya masih jagoan.

******
Suatu hari emak dan bapak ke kondangan naik motor.  Beberapa hari ini berturut-turut ada kondangan. Emak yang biasanya disiplin, tidak memakan makanan yang berlemak  tinggi, jadi tergoda ingin makan enak. Hatinya sedang senang, anak bungsunya yang semula nakal sekarang sudah tobat,  sudah rajin mengaji. Biasanya sepulang mengaji anak kesayangannya ini membawakan wafer coklat kesukaannya.  Ah bahagianya.
            “Pak, kok rasanya dada emak sakit ya,” ucap Emak begitu masuk ke ruang tamu sepulang dari kondangan. Rasa sakitnya menjalar ke lengan, perutnya mual dan mendadak badannya terasa lemas.
“Bruk” tiba tiba emak terjatuh. Bapak yang berada di belakang emak kaget setengah mati.  “Emak ...Emak ...”
          “Ben... Ben...tolong ...,” Bapak teriak memanggil anak bungsu lelaki satu satunya. Ternyata anak itu tidak ada di tempat. Anak sulungnya Aida juga tidak ada. Yang ada hanya Imayang sedang nonton TV.
            Bapak langsung membopong Emak ke tempat tidur.
“Aduh .... sesak, sakit. Dada emak ...... sakit ... kaya diinjek gajah...” ucap Emak dengan suara tersengal –sengal. Keringat Emak keluar membanjiri tubuh.
“Mana Benny ....  Ben ... cari angkot bawa emak ke rumah sakit”, teriak Bapak. 
“Ya Allah... Emak kenapa? Benny sedang ngga ada, Pak. Lagi pergi. Ima panggil Bu Mantri aja ya,” ucap Ima yang cepat mendekat begitu mendengar suara ribut ribut.
“Ya ...buruan,” jawab Bapak. Ia percaya dengan Bu Mantri. Ia cukup terpercaya, pengalamannya menangani orang sakit sudah berpuluh-puluh tahun.  Ima langsung memanggil Bu Mantri yang tinggalnya selang beberapa rumah. Ima terus berusaha menelpon Ben, namun telpon Ben tidak aktif.  Kakak sulungnya Aida sudah bisa dihubungi. Tak lama kemudian Ima dan Bu Mantri datang dan memberi pertolongan pertama pada Emak. Kelihatannya penderitaan Emak sedikit berkurang walau badannya masih  terkulai.

Emak masih lemah. Ia hendak dibawa ke rumah sakit tapi masih harus menunggu angkot atau taksi dipanggil. Memerlukan waktu agak lama karena hari sudah malam. Tidak ada lagi kendaraan umum yang lewat. Tetangga dekat emak tidak ada yang punya mobil. Salah satu tetangga sedang naik motor mencari angkot.
“Mana Ben?” tanya emak dengan suara lemah. Bapak dan Aida sedang duduk di dekat tempat tidurnya. Bapak terus membaca Al Fatihah sedangkan Aida memijat mijat kaki emak. Ima sedang menyiapkan baju ganti emak untuk dibawa ke rumah sakit.  “Mana Ben?” terdengar suara gusar Aida. Ia bertanya dengan suara keras sambil menoleh ke arah Ima. Kakak sulung yang satu ini memang agak galak dengan Ben.
“Biasanya Jumat malam Ben ikut balap motor,” dari arah pintu kamar terdengar suara anak remaja tanggung. Ia mengantar ibunya menjenguk Emak.  Anak tetangga ini kadang-kadang ikut kakaknya ke arena balap liar.
“Apa? Ben ikut balap motor ...Ya Allah,” terdengar suara Emak tersedak.
“Oh .... sakit ... ya Allah.  Serangan itu datang lagi.  Emak langsung pingsan.
“Ya Allah ngomong apa kamu nak. Jangan bilang seperti itu. Emak kaget,”suara Bapak marah. Anak muda tadi ciut, ia hanya bicara apa adanya.  Bu Mantri yang masih berada di kamar itu cepat berdiri dan berusaha membuat Emak terbatuk dengan menekan dadanya beberapa kali. Tidak ada reaksi. Semua yang berada di kamar itu terhenyak menahan nafas. Suasana sepi, hanya terdengar suara Basmallah Bu  Mantri yang terus berusaha. Terdengar sayup suara istighfar dan isak tertahan. Suasana ruang terasa begitu mencekam. Waktu bagaikan berhenti sejenak, turut menyaksikan usaha anak manusia mencegah datangnya malaikat maut.

Setelah beberapa waktu, tidak ada perubahan. Bu Mantri berhenti dan mulai menekan urat nadi Emak.
“Inna lillah ..,” ucapnya. Rupanya ia tak sanggup menghalau kedatangan malaikat maut.
“Emak ....astaghfirullah ..ya Allah,” bapak yang biasanya tenang kelihatan begitu tegang. Ia masih berharap Emak hanya pingsan.
“Emak…emak,” bapak menggoncang-goncang badan emak.
“Emak sudah ngga ada pak,” ucap Bu Mantri perlahan.
Mendengar ucapan itu bapak tersadar, badannya terkulai.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun,” ucapnya sambil terisak. Ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Ya Allah, semuanya begitu cepat, begitu tak terduga.
Jika ajal telah tiba saatnya,  ruh tidak akan ingkar janji. Janjinya untuk kembali kepada yang memilikinya Allah Azza wa jala.

*****

Malam itu Benny kalah. Entah kenapa perasaannya malam itu tidak enak.  Tadi ia pergi tanpa pamit. Emak dan bapak pergi kondangan.  Yang menang  Topan, tetangganya.
“Ayo Ben ikutan aku traktir minuman. Kan aku yang menang. Ngga senang ya aku menang,” bujuk Topan.
“Ngga ah. Emak ngga suka aku minum.”
“Sekali-sekali lah. Kan Emak sudah suka muji-muji Ben. Dikirain Ben udah jadi anak soleh. Ngga bakalan ketahuan lah. Dikit aja.”
“Ayo Ben. Mana solidaritasmu,” teman-teman yang lain ikut membujuknya.
Akhirnya Ben mengalah, ia memang mudah merasa tidak enak dengan teman-temannya.  “Ngga papalah kan Emak ngga tau,” pikirnya. Teguk demi teguk air haram itu membasahi kerongkongannya.
  “Kring krring ....” hape yang baru saja ia nyalakan berbunyi.  Sedari tadi memang hapenya ia matikan.  Konsentrasi ke balapan.  Benny kaget mendapati bahwa panggilan itu dari bapaknya. “Wah, jangan-jangan malaikat melapor ke Bapak nih. Kan bapak orang alim,” pikirnya.
“Cepat pulang Ben ...,” terdengar suara berat bapaknya.
“Ya, Pak,“ Ben masih mau bertanya tapi telpon bapak sudah ditutup.
Ben memacu motornya.  Perasaannya galau,  tidak biasanya bapak menelepon. Lokasi balapan ini agak jauh dari rumahnya. Tak lupa ia mampir ke minimarket untuk membeli wafer coklat. Kali ini ia membeli dua bungkus. Ia merasa teramat bersalah.  Sampai di dekat rumah, ia lihat rumahnya ramai, pintunya terbuka lebar. Banyak tamu. Lampu terang benderang.
“Ada apa ini? “ Jantung Ben berdegup sangat keras.
“Ada apa?” Ben bertanya dengan gusar kepada para tamu.  Mulutnya yang bau minuman keras tercium oleh tamu-tamu yang sedang duduk di mulut pintu. Para tamu itu terdiam berpandangan. Tak lama kemudian terdengar suara Ima, kakaknya.
 ”Ke mana saja kamu ditelpon dari tadi ngga diangkat? ... emak sudah pergi.”         
 “Pergi ...pergi ke mana?” teriak Ben panik.
 ”Emak sudah  ngga ada Ben. Emak dipanggil Allah ...”
 “Apa? EMAAK .....” suara tangis Ben melengking keras.. Badannya yang besar ambruk bagaikan batang pohon yang tercerabut dari akarnya. Benny menangis meraung-raung seperti anak kecil “Emak ampuni Ben. Emak, ini wafer buat Emak,” suara tangisnya mulai merintih, mengiris hati membuat semua tamu ikut menitikkan air mata. “Ya Allah ampuni hambaMu yang berlumuran dosa ini.”

*****

gambar dari: www.sumutmerdeka.com